Dari Festival Lampu’ Toae, Pemkab Bone Bidik Angkue Jadi Destinasi Wisata Mangrove

BONE 29 Sep 2026 21:38 • 4 min read • 15 views • By Yusnadi

Share berita ini

Dari Festival Lampu’ Toae, Pemkab Bone Bidik Angkue Jadi Destinasi Wisata Mangrove
Wakil Bupati Bone, H. Andi Akmal Pasluddin, saat membuka secara resmi Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae Zona ke-6 Gau’ Maraja 2026 di Kampung Nelayan Merah Putih, Senin (28/9/2026).

BONE, ZATERANEWS.COM — Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae Zona ke-6 Gau’ Maraja 2026 tidak hanya menjadi panggung pelestarian budaya masyarakat pesisir Bone.

 

Dari Kampung Nelayan Merah Putih, Desa Angkue, Kecamatan Kajuara, muncul gagasan untuk mendorong kawasan tersebut berkembang menjadi destinasi wisata mangrove yang dapat membuka sumber ekonomi baru bagi masyarakat.

 

Gagasan itu disampaikan Wakil Bupati Bone, H. Andi Akmal Pasluddin, saat membuka secara resmi Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae Zona ke-6 Gau’ Maraja 2026 di Kampung Nelayan Merah Putih, Senin (28/9/2026).

 

Festival yang digelar Pemerhati Seni dan Budaya Bone (PSBB) Sangdara Periode 2025–2026 tersebut mengusung tema “Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Upaya Penguatan Identitas Masyarakat Pesisir Bone.”

 

Angkue Dibidik Jadi Destinasi Mangrove

 

Di hadapan masyarakat dan peserta festival, Andi Akmal melihat kawasan mangrove Angkue sebagai potensi yang dapat dikembangkan lebih jauh.

 

Menurutnya, masyarakat pesisir tidak selamanya harus bergantung pada aktivitas penangkapan ikan. Potensi lingkungan dan kawasan pesisir dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi alternatif.

 

“Ke depan, kita tidak hanya bergantung pada penangkapan ikan laut. Bagaimana kita memaksimalkan potensi yang ada di desa ini untuk ekonomi masyarakat,” kata Andi Akmal.

 

Ia bahkan menyebut Pemkab Bone akan mulai melihat peluang pengembangan wisata mangrove Angkue secara lebih serius.

 

Rencana awalnya, pemerintah daerah akan mendorong rintisan pengembangan kawasan tersebut melalui dukungan anggaran daerah pada tahun mendatang.

 

“Insyaallah tahun depan kita coba membuat rintisan untuk mangrove di Desa Angkue ini. Kita lihat potensinya dan kita berikan dorongan anggaran dari APBD Kabupaten Bone,” ujarnya.

 

1.000 Bibit Mangrove untuk Pesisir

 

Gagasan pengembangan wisata tersebut mendapat dukungan dari sisi lingkungan.

 

Yayasan Lontara Hijau menyediakan 1.000 bibit mangrove serta 2.000 bibit pohon dan buah untuk mendukung penghijauan kawasan pesisir.

 

Dalam rangkaian festival, Andi Akmal juga menyerahkan bibit mangrove secara simbolis untuk selanjutnya ditanam dan dikembangkan di kawasan Angkue.

 

Upaya tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat fungsi ekologis kawasan pesisir, tetapi juga menjadi bagian dari penataan potensi wisata mangrove yang mulai dirintis pemerintah daerah bersama masyarakat.

 

Budaya, Mangrove dan Kampung Nelayan

 

Andi Akmal melihat Angkue memiliki modal yang cukup lengkap untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata pesisir.

 

Selain kawasan mangrove, terdapat Kampung Nelayan Merah Putih, pelabuhan, serta kehidupan dan kekayaan budaya masyarakat pesisir yang masih hidup hingga saat ini.

 

Potensi tersebut, menurutnya, dapat dipadukan sehingga pengembangan kawasan tidak hanya berorientasi pada pariwisata, tetapi juga pelestarian lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

 

Karena itu, ia berharap Festival Lampu’ Toae tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi bagian dari proses membangun kawasan pesisir secara berkelanjutan.

 

“Budaya dan lingkungan adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu terus kita dukung agar nilai-nilai budaya tetap hidup sekaligus kepedulian terhadap lingkungan semakin tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.

 

Lampu’ Toae Hidupkan Kembali Identitas Pesisir

 

Ketua PSBB Bone Sangdara, Wiwin Wahyuni, S.Tr.AB., mengatakan Festival Lampu’ Toae terlaksana melalui fasilitasi pemajuan kebudayaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan.

 

Pemilihan Lampu’ Toae sebagai lokasi festival menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali sejarah dan kekayaan budaya yang berkembang di wilayah Kajuara.

 

Menurut Wiwin, festival tersebut juga diharapkan mampu mendekatkan generasi muda dengan warisan budaya daerahnya.

 

“Generasi muda perlu mengenal sejarah dan budaya daerahnya agar tidak kehilangan identitas di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.

 

Sementara itu, Perwakilan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan, Iswadi, S.S., M.A., menyampaikan komitmen untuk membangun kolaborasi bersama Pemkab Bone, Pemprov Sulsel, komunitas budaya, dan berbagai pihak dalam mendukung pemajuan kebudayaan.

 

Festival Jadi Titik Awal

 

Rangkaian Festival Lampu’ Toae juga diwarnai pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter oleh masyarakat sebagai simbol semangat kebangsaan dan persatuan.

 

Bagi Pemkab Bone, perpaduan budaya, lingkungan, kehidupan nelayan, dan potensi wisata menjadi modal yang dapat dikembangkan secara bertahap.

 

Kolaborasi pemerintah, masyarakat, komunitas budaya, dunia pendidikan, serta generasi muda menjadi faktor penting agar rencana tersebut tidak berhenti pada gagasan.

 

Jika pengembangan dilakukan secara konsisten, Angkue berpeluang memiliki wajah baru sebagai kawasan pesisir yang memadukan wisata mangrove, budaya maritim, kehidupan kampung nelayan, dan ekonomi masyarakat.

 

Dengan demikian, Festival Lampu’ Toae bukan hanya menjadi panggung untuk menghidupkan kembali tradisi, tetapi juga dapat menjadi titik awal untuk memperkenalkan potensi Angkue sebagai salah satu kawasan wisata pesisir di Kabupaten Bone.

Zatera News

Recent Articles

Popular Articles