Dari Bau Amis ke Sentra Perikanan Modern, Wajah Tongke-Tongke Berubah Total
SINJAI, ZATERANews.com — Siapa yang pernah melihat Pelabuhan Tongke-Tongke beberapa tahun lalu, mungkin akan terkejut dengan wajah barunya hari ini.
Kawasan pesisir yang dahulu identik dengan kapal nelayan yang bersandar di tepian sungai, bangunan sederhana, lahan terbuka, serta aroma amis yang melekat kuat di lingkungan pelabuhan, kini mulai bertransformasi menjadi kawasan perikanan modern melalui Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Perubahan itu bukan sekadar soal bangunan baru. Yang berubah adalah cara kawasan ini bekerja sebagai pusat aktivitas ekonomi nelayan.
Dari Pelabuhan Tradisional ke Kawasan Terintegrasi
Sebelum pembangunan KNMP, aktivitas di Tongke-Tongke berlangsung secara konvensional.
Kapal-kapal nelayan bersandar di sepanjang tepian sungai. Hasil tangkapan dibongkar dengan fasilitas yang terbatas, sementara kebutuhan operasional nelayan masih tersebar dan belum tertata dalam satu sistem yang terintegrasi.
Belum tersedia fasilitas pendukung yang memadai untuk menjaga kualitas ikan maupun meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan.
Kini kondisi tersebut mulai berubah.
Di kawasan yang sama berdiri berbagai fasilitas pendukung yang dirancang untuk memperkuat rantai usaha perikanan, mulai dari cold storage, pabrik es balok, kendaraan berpendingin, cool box, kios perbekalan nelayan hingga sentra kuliner.
Keberadaan fasilitas tersebut membuat aktivitas perikanan tidak lagi berhenti saat ikan didaratkan, tetapi berlanjut hingga proses penyimpanan, pengolahan dan distribusi.
Menghapus Stigma Pelabuhan Kumuh dan Bau
Transformasi Tongke-Tongke sejalan dengan visi Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang ingin mengubah wajah pelabuhan perikanan di Indonesia.
Selama ini, banyak kawasan pelabuhan identik dengan lingkungan yang kotor, semrawut dan menimbulkan persoalan kebersihan.
“Sekarang ini pelabuhan perikanan identik dengan kotor dan bau, sehingga perlu pembenahan menyeluruh untuk mengubah stigma tersebut,” kata Trenggono.
Karena itu, pembangunan KNMP tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi perikanan, tetapi juga menciptakan kawasan pesisir yang lebih bersih, sehat dan nyaman.
Di Tongke-Tongke, perubahan tersebut mulai terlihat dari penataan kawasan yang lebih rapi dibanding kondisi sebelumnya.
Rantai Dingin Jadi Kunci Nilai Tambah
Salah satu perubahan paling penting dalam KNMP adalah hadirnya sistem rantai dingin (cold chain) yang selama ini menjadi kelemahan banyak sentra perikanan tradisional.
Tongke-Tongke dikenal sebagai salah satu daerah penghasil tuna. Komoditas ini membutuhkan penanganan khusus agar kualitasnya tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.
Karena itu, fasilitas cold storage, pabrik es balok, kendaraan berpendingin dan cool box menjadi elemen penting dalam menjaga mutu hasil tangkapan.
Dengan kualitas ikan yang lebih terjaga, peluang memperoleh harga jual yang lebih baik juga semakin besar.
Dari Laut Langsung ke Pasar
Perubahan lain yang mulai dirasakan adalah semakin terhubungnya rantai usaha perikanan.
Jika sebelumnya nelayan hanya menjual hasil tangkapan dalam bentuk mentah, kini hasil laut dapat diproses terlebih dahulu melalui Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang tersedia di kawasan KNMP.
Setelah itu, produk dapat didistribusikan ke berbagai daerah, termasuk pasar-pasar besar di luar Sulawesi Selatan.
Artinya, kawasan Tongke-Tongke kini tidak hanya menjadi tempat kapal bersandar, tetapi telah berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi perikanan yang mencakup proses dari hulu hingga hilir.
Mulai dari pendaratan ikan, penyimpanan, pengolahan hingga distribusi pasar.
Lebih dari Sekadar Infrastruktur
Bagi masyarakat pesisir, perubahan di Tongke-Tongke bukan hanya soal hadirnya bangunan baru.
KNMP membawa konsep baru tentang bagaimana kawasan nelayan dapat tumbuh menjadi pusat ekonomi yang lebih produktif dan bernilai tambah.
Transformasi yang terjadi menunjukkan bahwa pembangunan sektor perikanan tidak cukup hanya menyediakan fasilitas fisik, tetapi juga harus mampu menghubungkan seluruh rantai usaha agar manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh nelayan.
Dari kawasan pesisir yang dahulu sederhana, kumuh dan identik dengan bau amis, Tongke-Tongke kini sedang diarahkan menjadi kampung nelayan modern yang lebih bersih, tertata, dan terintegrasi.
Perubahan itu menjadi gambaran bagaimana pembangunan yang tepat sasaran dapat mengubah wajah kawasan pesisir sekaligus membuka peluang kesejahteraan yang lebih besar bagi masyarakat nelayan. (*)
Related Articles