Bone Dilirik FAO untuk Kajian Rumput Laut Nasional, Peluang Baru bagi Ekonomi Pesisir

Terkini 20 Jun 2026 10:39 3 min read 49 views By Yusnadi

Share berita ini

Bone Dilirik FAO untuk Kajian Rumput Laut Nasional, Peluang Baru bagi Ekonomi Pesisir
Potensi rumput laut di Kabupaten Bone kembali mendapat perhatian dunia. Tim dari organisasi pangan dunia, FAO, bersama Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) dan Universitas Mataram (UNRAM), menjadikan Bone sebagai salah satu lokasi kajian penguatan tata kelola rumput laut untuk mendukung pengembangan ekonomi biru (Blue Economy) dan ekonomi sirkular (Circular Economy) di Indonesia.

ZATERANEWS,COM, BONE — Potensi rumput laut di Kabupaten Bone kembali mendapat perhatian dunia. Tim dari organisasi pangan dunia, FAO, bersama Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) dan Universitas Mataram (UNRAM), menjadikan Bone sebagai salah satu lokasi kajian penguatan tata kelola rumput laut untuk mendukung pengembangan ekonomi biru (Blue Economy) dan ekonomi sirkular (Circular Economy) di Indonesia.

 

Kajian tersebut dibahas dalam pertemuan bersama Wakil Bupati Bone, H. Andi Akmal Pasluddin, di Aula Beramal Rumah Jabatan Wakil Bupati Bone, Kamis (18/6/2026) malam.

 

Dipilihnya Bone bukan tanpa alasan. Daerah ini dinilai memiliki potensi besar dalam budidaya dan pengembangan industri rumput laut yang berkelanjutan, sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat pesisir.

 

Dalam diskusi tersebut, tim kajian memaparkan sejumlah isu strategis, mulai dari standardisasi data produksi rumput laut nasional berbasis berat kering, penguatan tata kelola sektor rumput laut, hingga upaya meningkatkan daya saing komoditas tersebut di pasar nasional maupun internasional.

 

Sekretaris Jenderal ARLI, Mursalim, mengatakan kajian ini bertujuan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

 

Menurutnya, rumput laut merupakan salah satu komoditas strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional dan berpotensi memberikan nilai tambah lebih besar bagi masyarakat pesisir jika dikelola secara optimal.

 

Selain berdiskusi dengan pemerintah daerah, tim FAO, ARLI, dan UNRAM juga melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah sentra budidaya rumput laut di Bone.

 

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Kampung Nelayan Rumput Laut di Desa Kading, Kecamatan Barebbo. Di kawasan ini, tim meninjau langsung budidaya Eucheuma cottonii, yang menjadi sumber mata pencaharian utama warga setempat.

 

Rombongan juga mengunjungi tambak budidaya Gracilaria sp. di Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, guna melihat kondisi budidaya, produktivitas petani, hingga peluang pengembangan industri hilir yang dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut.

 

Pengurus ARLI, Asdar Marsuki, menilai Bone memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu pusat produksi rumput laut nasional. Namun, hal itu membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.

 

Sementara itu, Wakil Bupati Bone H. Andi Akmal Pasluddin menyambut baik pelaksanaan kajian tersebut. Ia berharap hasil kajian mampu melahirkan rekomendasi konkret yang tidak hanya memperkuat tata kelola sektor rumput laut, tetapi juga membuka peluang investasi dan pengembangan industri pengolahan di daerah.

 

Menurutnya, sektor rumput laut memiliki prospek besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat pesisir jika didukung riset, inovasi, dan kemitraan yang berkelanjutan.

 

“Dengan pengelolaan yang tepat, rumput laut tidak hanya menjadi komoditas unggulan daerah, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan mendorong pertumbuhan ekonomi Bone secara berkelanjutan,” ujar Andi Akmal.

 

Kajian yang melibatkan ARLI, UNRAM, dan Tim Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro ini nantinya akan menjadi bahan rekomendasi bagi berbagai pemangku kepentingan, termasuk FAO dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dalam memperkuat tata kelola sektor rumput laut nasional. (*)

 
Zatera News