Antrean Mengular dan Gas Menghilang, Negara Terlihat Tak Siap Hadapi Kemarau
GOWA, ZATERANEWS.COM --- Musim kemarau kembali datang. Namun bagi sebagian besar masyarakat kecil, kemarau bukan sekadar cuaca panas dan minim hujan. Kemarau telah berubah menjadi musim bertambahnya beban hidup.
Harga kebutuhan pokok perlahan merangkak naik. BBM semakin sulit diperoleh. Gas elpiji 3 kilogram menghilang dari warung-warung pengecer. Di sisi lain, pemadaman listrik bergilir terjadi hampir setiap hari. Semua persoalan itu datang bersamaan, menghimpit masyarakat yang sejak lama berjuang mempertahankan ekonomi keluarga.
Yang membuat publik semakin kecewa, persoalan ini bukan hal baru. Hampir setiap musim kemarau keluhan yang sama terus berulang. Namun hingga kini belum terlihat solusi yang benar-benar mampu mengakhiri masalah tersebut.
Antrian BBM Jadi Simbol Kegagalan Distribusi
Di Kabupaten Gowa, pemandangan antrean kendaraan di SPBU sudah menjadi hal biasa. Salah satu yang paling parah terjadi di SPBU Jalan Malino, Kelurahan Tompobalang, Kecamatan Somba Opu.
Antrean kendaraan mengular hingga menyebabkan kemacetan hampir dua kilometer dan berlangsung berjam-jam. Kemacetan panjang tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga menyebabkan pemborosan BBM bagi kendaraan yang terjebak dalam antrean.
Ironisnya, masyarakat harus menghabiskan bahan bakar hanya untuk mendapatkan bahan bakar.
Keluhan serupa disampaikan sopir angkutan daerah dari Gowa, Takalar, Jeneponto hingga Bantaeng. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan BBM sejak menjelang Idul Fitri dan kondisi tersebut masih berlangsung hingga sekarang.
Jika antrean panjang masih terjadi hampir setiap hari, publik tentu berhak mempertanyakan efektivitas langkah yang telah dilakukan Pertamina selama ini.
Pertamini Menjamur di Tengah Kelangkaan
Di saat masyarakat harus mengantre panjang di SPBU, penjualan Pertalite secara eceran justru semakin mudah ditemukan.
Mesin pom mini atau Pertamini tumbuh di berbagai titik, bahkan tidak sedikit yang beroperasi tidak jauh dari SPBU. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat.
Bagaimana mungkin BBM dikatakan sulit diperoleh di SPBU, sementara penjualan eceran tetap berjalan dan berkembang?
Pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang jelas dari pihak terkait agar tidak memunculkan spekulasi yang semakin luas di tengah masyarakat.
Ibu-Ibu Berburu Gas di Tengah Terik Matahari
Belum selesai persoalan BBM, masyarakat kembali dihadapkan pada sulitnya memperoleh gas elpiji 3 kilogram.
Kelompok yang paling merasakan dampaknya adalah kaum ibu rumah tangga.
Dalam dua bulan terakhir, pemandangan ibu-ibu menenteng tabung gas kosong berkeliling dari satu warung ke warung lain menjadi hal yang lazim ditemui. Banyak pengecer yang biasanya menyediakan stok mengaku kehabisan.
Di salah satu toko swalayan di Balang-Balang, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, seorang penjaga toko mengaku setiap pekan hanya menerima sekitar 80 tabung LPG 3 kilogram.
"Di sini sekali drop 80 tabung, tapi tidak sampai dua jam langsung habis karena diserbu ibu-ibu," ujarnya, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, selain digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tidak sedikit pembeli yang membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi.
Karena itu, pihak toko mulai membatasi jumlah pembelian agar stok dapat dinikmati lebih banyak warga.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan LPG bukan hanya soal pasokan, tetapi juga pengawasan distribusi yang masih lemah.
Listrik Padam, Usaha Kecil Jadi Korban
Penderitaan masyarakat tidak berhenti pada BBM dan LPG.
Pemadaman listrik bergilir yang terjadi hampir setiap hari semakin memperberat kondisi ekonomi warga. Dalam banyak kasus, listrik padam selama tiga hingga empat jam.
Bagi usaha kecil, kondisi ini sangat merugikan.
Pedagang minuman dingin, penjual makanan yang menggunakan lemari pendingin, hingga pelaku usaha kuliner malam harus menanggung kerugian akibat terganggunya aktivitas usaha.
Sebagian bahkan memilih tidak berjualan ketika listrik padam karena tidak mampu menjalankan peralatan yang dibutuhkan.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, gangguan listrik berkepanjangan menjadi pukulan tambahan bagi masyarakat kecil yang bergantung pada pendapatan harian.
Negara Jangan Hadir Saat Krisis Saja
Masyarakat tidak membutuhkan penjelasan panjang. Mereka membutuhkan solusi nyata.
BBM langka, LPG sulit diperoleh, listrik sering padam, dan harga kebutuhan pokok terus naik adalah persoalan yang menyentuh kehidupan sehari-hari rakyat.
Karena itu, pemerintah bersama Pertamina dan seluruh pihak terkait harus segera turun tangan menghadirkan langkah konkret sebelum keresahan publik berubah menjadi kemarahan.
Jangan menunggu demonstrasi terjadi baru kemudian bergerak mencari solusi.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar distribusi energi, melainkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan negara melindungi dan melayani rakyatnya.
Ketika rakyat mulai bertanya, "Ada apa dengan negara ini?", maka sesungguhnya itu adalah alarm yang tidak boleh diabaikan.
Related Articles