Anak ABK Dirumahkan Usai Insiden di Kelas, Orang Tua Pertanyakan Kepastian Pendidikan

PENDIDIKAN 06 Aug 2026 11:34 3 min read 80 views By Rama

Share berita ini

Anak ABK Dirumahkan Usai Insiden di Kelas, Orang Tua Pertanyakan Kepastian Pendidikan
Menurut Marwanti, insiden terakhir terjadi pada Senin (3/8/2026) ketika Ammar yang sekolah di TK Mutiara Islamic School yang terletak di Perumahan Dosen Unhas, kembali menggigit salah seorang teman sekelasnya. Setelah menerima informasi tersebut dari wali kelas, ia mengaku langsung meminta maaf kepada orang tua murid yang menjadi korban.

MAKASSAR, ZATERANEWS.COM — Kebijakan sebuah taman kanak-kanak di Kota Makassar yang meminta seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar dari rumah setelah terlibat insiden menggigit teman sekelas memunculkan pertanyaan mengenai mekanisme pendampingan dan kepastian pendidikan bagi anak dengan kebutuhan khusus.

 

Orang tua murid bernama Ammar Fathee Karim mengaku keberatan setelah pihak sekolah meminta anaknya tidak mengikuti proses belajar di kelas untuk sementara waktu. Menurutnya, hingga kini belum ada penjelasan tertulis mengenai status pendidikan anaknya maupun batas waktu kebijakan tersebut diberlakukan.

 

Marwanti, ibu Ammar, mengatakan putranya merupakan anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang masih menjalani terapi. Ia mengaku sejak awal telah menyampaikan kondisi anaknya kepada pihak sekolah saat proses pendaftaran.

 

Menurut Marwanti, insiden terakhir terjadi pada Senin (3/8/2026) ketika Ammar yang sekolah di TK Mutiara Islamic School yang terletak di Perumahan Dosen Unhas, kembali menggigit salah seorang teman sekelasnya. Setelah menerima informasi tersebut dari wali kelas, ia mengaku langsung meminta maaf kepada orang tua murid yang menjadi korban.

 

"Saya langsung menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua anak yang digigit karena saya menyadari tindakan anak saya memang tidak benar," ujarnya.

 

Ia menjelaskan bahwa komunikasi dengan orang tua murid yang menjadi korban berlangsung baik dan permintaan maaf telah diterima. Namun, persoalan muncul setelah pihak sekolah memutuskan agar Ammar belajar dari rumah.

 

Marwanti mengaku telah menemui pihak sekolah untuk meminta penjelasan terkait keputusan tersebut. Dalam pertemuan itu, menurutnya, pihak sekolah menyampaikan bahwa guru mengalami kesulitan karena harus menangani banyak murid sementara Ammar membutuhkan perhatian khusus.

 

Ia mengaku memahami kondisi tersebut dan bahkan bersedia mendampingi anaknya selama proses belajar jika diperlukan. Namun hingga kini, kata dia, belum ada kepastian mengenai mekanisme ataupun batas waktu kebijakan belajar dari rumah tersebut.

 

Keberatan terbesar muncul setelah dirinya menerima pesan yang menyebut Ammar akan belajar dari rumah "sampai sembuh". Menurut Marwanti, istilah tersebut tidak tepat digunakan untuk kondisi ASD maupun ADHD.

 

"Anak ASD dan ADHD bukan sakit. Mereka hanya perlu dipahami, diterima, dan didampingi," katanya.

 

Marwanti menuturkan bahwa selama lebih dari dua pekan bersekolah, Ammar tercatat tiga kali menggigit teman. Setiap kejadian, ia mengaku selalu bertanggung jawab dengan meminta maaf secara langsung kepada orang tua murid yang terdampak.

 

Ia berharap ada komunikasi yang lebih jelas antara sekolah dan orang tua terkait langkah-langkah penanganan yang akan ditempuh sehingga hak pendidikan anak tetap terjamin tanpa mengabaikan kenyamanan dan keamanan peserta didik lainnya.

 

Hingga berita ini diterbitkan, ZateraNews.com telah berupaya menghubungi Kepala Sekolah dan Ketua Yayasan TK Mutiara Islamic School melalui pesan WhatsApp untuk memperoleh konfirmasi dan penjelasan terkait kebijakan tersebut. Namun, belum ada tanggapan yang diberikan.

Zatera News