LDII Sulsel Dorong Persatuan di Tengah Perbedaan, Tegaskan Pancasila Harga Mati

MAKASSAR 16 Aug 2026 20:31 3 min read 72 views By Abdul Rahman

Share berita ini

LDII Sulsel Dorong Persatuan di Tengah Perbedaan, Tegaskan Pancasila Harga Mati
Dialog Kebangsaan yang digelar Yayasan Al-Markaz Al-Islami Muhammad Yusuf Makassar di Ballroom Masjid Al-Markaz Al-Islami, Sabtu (15/8/2026), dengan tema “Moderasi Beragama, Menguatkan Integritas Diri Kepahlawanan Menuju Indonesia Sejahtera dan Makmur.”

MAKASSAR, ZATERANEWS.COM — Di tengah menguatnya polarisasi dan derasnya arus informasi yang kerap memicu perbedaan pandangan, DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan menegaskan pentingnya memperkuat moderasi beragama sebagai fondasi menjaga persatuan bangsa.

 

Pesan itu disampaikan dalam Dialog Kebangsaan yang digelar Yayasan Al-Markaz Al-Islami Muhammad Yusuf Makassar di Ballroom Masjid Al-Markaz Al-Islami, Sabtu (15/8/2026), dengan tema “Moderasi Beragama, Menguatkan Integritas Diri Kepahlawanan Menuju Indonesia Sejahtera dan Makmur.”

 

Forum tersebut mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, organisasi keagamaan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk membahas tantangan menjaga kerukunan di tengah keberagaman Indonesia.

 

Ketua DPW LDII Sulsel, Asdar Mattiro, menilai perbedaan merupakan keniscayaan dalam kehidupan berbangsa. Karena itu, yang perlu dibangun bukan keseragaman, melainkan kemampuan untuk menemukan titik temu demi kepentingan yang lebih besar.

 

Memperbesar persamaan dan memperkecil perbedaan,” tegas Asdar di hadapan peserta dialog.

 

Menurutnya, setiap kelompok memiliki latar belakang dan pandangan yang berbeda. Namun seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Ia mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk memperlebar jarak sosial maupun mempertajam sekat antarkelompok. Sebaliknya, ruang dialog harus terus dibuka agar masyarakat dapat membangun saling pengertian dan memperkuat kebersamaan.

 

Pancasila Jadi Titik Temu

 

Dalam kesempatan itu, Asdar juga menegaskan bahwa Pancasila merupakan konsensus nasional yang menjadi perekat seluruh komponen bangsa.

 

Menurutnya, pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan harus terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terjebak pada kepentingan kelompok yang sempit.

 

“Kalau setiap kelompok lebih mengedepankan ego masing-masing, perbedaan bisa berkembang menjadi potensi perpecahan yang mengancam persatuan dan keutuhan bangsa,” ujarnya.

 

Karena itu, moderasi beragama tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarumat beragama, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan sosial dan stabilitas nasional.

 

LDII Pilih Bersanding, Bukan Bersaing

 

Asdar menegaskan bahwa LDII Sulsel berkomitmen membangun kolaborasi dengan seluruh elemen bangsa, baik pemerintah, aparat keamanan, organisasi keagamaan maupun masyarakat sipil.

 

LDII ingin bersanding dalam membangun Indonesia, bukan bertanding, apalagi bersaing,” katanya.

 

Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan LDII yang menempatkan kerja sama dan komunikasi sebagai jalan untuk memperkuat persatuan tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing organisasi.

 

Bagi LDII, setiap organisasi memiliki ruang dan peran berbeda dalam membangun bangsa. Perbedaan itu justru dapat menjadi kekuatan ketika dikelola melalui dialog dan semangat gotong royong.

 

Dialog Jadi Benteng Persatuan

 

Dialog Kebangsaan di Al-Markaz Al-Islami dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya perwakilan Gubernur Sulawesi Selatan, perwakilan Kapolda Sulsel, Ketua MUI Sulsel, Ketua FKUB Sulsel, serta perwakilan berbagai organisasi Islam dan kemasyarakatan.

 

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa menjaga persatuan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, aparat keamanan, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat luas.

 

Di era digital saat ini, ketika perbedaan pandangan dapat dengan cepat berkembang menjadi konflik akibat minimnya komunikasi, forum dialog dinilai menjadi instrumen penting untuk membangun kepercayaan dan memperkuat kohesi sosial.

 

Bagi LDII Sulsel, keterlibatan dalam forum tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk terus merawat kebangsaan melalui penguatan moderasi beragama, dialog, dan kerja sama lintas elemen masyarakat.

 

Sebab pada akhirnya, moderasi beragama bukan sekadar soal keyakinan, melainkan bagaimana seluruh anak bangsa mampu hidup berdampingan, saling menghormati, dan bersama-sama menjaga Indonesia tetap utuh. (*)

Zatera News