Bone Bidik Swasembada Telur, Bupati Andi Asman Belajar Model Peternakan Terintegrasi di Bali

BONE 23 Aug 2026 20:13 3 min read 45 views By Yusnadi

Share berita ini

Bone Bidik Swasembada Telur, Bupati Andi Asman Belajar Model Peternakan Terintegrasi di Bali
Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman melakukan studi tiru program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) di Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (22/8/2026).

BALI, ZATERANEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Bone mulai menyiapkan langkah besar di sektor peternakan unggas. Tak sekadar menambah populasi ayam, Bone kini membidik pembangunan ekosistem peternakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pakan, produksi telur, hingga penyerapan pasar.

 

Keseriusan itu terlihat saat Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman melakukan studi tiru program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) di Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu (22/8/2026).

 

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Pemkab Bone melihat langsung pengelolaan Kelompok Dana Mertamasari dan Kelompok Tani Gopawinangon, salah satu penerima manfaat program HAT yang mengembangkan sekitar 600 ekor ayam petelur dengan tingkat produksi mencapai 80 persen.

 

Yang menarik, hasil produksi telur tidak hanya dipasarkan secara umum, tetapi telah terserap untuk kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pasar desa. Model ini dinilai mampu menciptakan kepastian pasar sekaligus mendukung program pemenuhan gizi masyarakat.

 

“Terima kasih sudah menyambut kami dengan baik. Kami di Kabupaten Bone sedang bersiap mengembangkan Hilirisasi Ayam Terintegrasi,” kata Andi Asman.

 

Bone Punya Modal Besar

 

Menurut Andi Asman, Bone memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain, yakni produksi padi dan jagung yang melimpah. Potensi tersebut dapat menjadi fondasi dalam membangun industri peternakan ayam yang lebih mandiri karena sebagian kebutuhan bahan baku pakan tersedia di daerah sendiri.

 

“Kami di Bone memiliki produksi padi dan jagung yang besar, dan saat ini produksi ayam juga sedang menjadi tren. Potensi ini yang ingin kami integrasikan,” ujarnya.

 

Bagi Pemkab Bone, keberhasilan program HAT bukan hanya soal peternakan ayam, tetapi bagaimana menciptakan rantai ekonomi yang saling terhubung antara petani, peternak, pelaku usaha pengolahan, hingga pasar.

 

Dari Kandang Langsung ke Pasar

 

Kepala BPTU-HPT Denpasar, drh. I Gusti Putu Ngurah Raka, menjelaskan bahwa kelompok yang dikunjungi merupakan contoh peternakan berbasis kelompok yang telah memiliki sistem produksi dan pemasaran yang berjalan beriringan.

 

Model tersebut dinilai mampu menjawab persoalan klasik peternak, yakni kesulitan menjual hasil produksi ketika panen.

 

Dengan adanya keterhubungan antara peternakan, pasar desa, dan program pemenuhan gizi, hasil produksi memiliki kepastian serapan sehingga usaha peternakan menjadi lebih berkelanjutan.

 

Inspirasi untuk Program Makan Bergizi

 

Model yang diterapkan di Bangli juga dinilai relevan dengan kebutuhan Bone, terutama dalam mendukung program pemenuhan gizi masyarakat yang membutuhkan pasokan telur secara berkelanjutan.

 

Jika diterapkan dengan baik, peternak lokal tidak hanya memperoleh pasar yang pasti, tetapi juga berperan langsung dalam mendukung program peningkatan gizi masyarakat.

 

Teknologi dan Pengelolaan Lingkungan

 

Dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI I Nyoman Adi Wiryatama turut berbagi pengalaman mengenai pengelolaan peternakan modern.

 

Mantan Bupati Tabanan dua periode itu memperkenalkan inovasi mikroba yang dikembangkannya untuk membantu mengendalikan populasi lalat di lingkungan peternakan.

 

“ Saya anak petani dan saya suka beternak. Saya juga memiliki ratusan ternak,” ujarnya.

 

Ia menilai pengembangan sektor peternakan harus dibarengi dengan inovasi teknologi agar produktivitas meningkat tanpa mengabaikan aspek lingkungan.

 

Cari Model yang Cocok untuk Bone

 

Bagi Pemkab Bone, studi tiru ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bagian dari pencarian model terbaik yang dapat diterapkan sesuai karakteristik daerah.

 

Konsep HAT yang dipelajari mencakup penyediaan pakan, budidaya ayam, produksi telur, pengolahan hasil hingga pemasaran dalam satu ekosistem ekonomi yang saling terhubung.

 

Jika berhasil diterapkan, Bone tidak hanya menjadi daerah penghasil jagung dan padi, tetapi juga berpeluang menjadi salah satu sentra produksi telur dan peternakan ayam terintegrasi di Indonesia Timur.

 

Langkah ini sekaligus mempertegas arah pembangunan ekonomi Bone yang mulai mengedepankan hilirisasi, yakni menciptakan nilai tambah dari potensi daerah agar manfaat ekonominya lebih banyak dinikmati masyarakat lokal. (*)

Zatera News