Lewat Film Bendungan Palakka, Pelajar SMPN 1 Watampone Diajak Memahami Akar Budaya Bone
BONE, ZATERANEWS.COM – Kebudayaan tidak selalu lahir dari panggung seni atau upacara adat. Di Bone, banyak tradisi tumbuh dari kehidupan sehari-hari masyarakat, dari sawah, air, kerja bersama, hingga kebiasaan yang diwariskan lintas generasi.
Pesan itulah yang diperkenalkan kepada siswa SMP Negeri 1 Watampone melalui kegiatan diseminasi dan pemutaran film kebudayaan dalam rangka Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026, Jumat (14/8/2026).
Salah satu film yang menarik perhatian peserta adalah dokumenter “Bendungan Palakka: Nafas Petani Bone”. Film tersebut mengajak para pelajar melihat keterkaitan antara air, pertanian, dan lahirnya berbagai tradisi yang menjadi identitas masyarakat Bone.
Dalam film itu, Bendungan Palakka tidak hanya digambarkan sebagai infrastruktur pengairan. Keberadaannya menjadi bagian penting dari kehidupan petani, mulai dari mengolah lahan, menanam, hingga menghasilkan panen yang menopang kehidupan masyarakat.
Dari aktivitas pertanian itulah lahir berbagai nilai sosial dan budaya yang terus bertahan hingga saat ini.
Dari Sawah Lahir Tradisi
Para siswa diperkenalkan pada tradisi Mappadekko, budaya masyarakat Bugis yang menggunakan alu dan lesung dalam aktivitas menumbuk padi. Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi pertunjukan budaya yang sarat makna kebersamaan.
Selain itu, siswa juga dikenalkan dengan tradisi Mappere, yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Bone.
Beragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa pertanian pada masa lalu bukan sekadar aktivitas ekonomi. Di dalamnya terdapat pengetahuan lokal, gotong royong, interaksi sosial, hingga nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dengan demikian, sawah bukan hanya tempat menghasilkan pangan, tetapi juga ruang lahirnya budaya, tradisi, dan identitas masyarakat.
Belajar Budaya dari Kehidupan Nyata
Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Watampone, Andi Miswar, S.Pd., mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena siswa mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda. Mereka tidak hanya melihat budaya sebagai sebuah pertunjukan, tetapi juga memahami bagaimana budaya itu tumbuh dari kehidupan masyarakat, termasuk dari pertanian dan lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan dengan konsep yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak pelajar agar pemahaman generasi muda terhadap budaya daerah semakin kuat.
Memahami Cerita di Balik Tradisi
Panitia pelaksana, Muhammad Sulham, menjelaskan bahwa pemilihan film Bendungan Palakka: Nafas Petani Bone memiliki tujuan untuk memperlihatkan keterhubungan antara lingkungan, pertanian, dan kebudayaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kebudayaan itu saling berkaitan. Ketika kita berbicara tentang Bendungan Palakka, kita berbicara tentang air. Air mendukung pertanian, pertanian menghasilkan pangan, dan dari kehidupan pertanian itu kemudian muncul berbagai kebiasaan serta tradisi masyarakat,” jelasnya.
Menurut Sulham, tradisi seperti Mappadekko dan Mappere bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan alam.
“Anak-anak perlu mengetahui cerita di balik tradisi tersebut,” katanya.
Menyiapkan Agen Pemajuan Kebudayaan
Melalui kegiatan ini, para pelajar tidak hanya diperkenalkan pada nama-nama tradisi, tetapi juga diajak memahami makna yang terkandung di dalamnya.
Sulham menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan budaya di masa depan.
“Mereka nantinya yang akan menjadi agen pemajuan kebudayaan. Harapannya bukan hanya mengetahui nama tradisinya, tetapi memahami maknanya, menghargainya, lalu ikut melestarikan dan mengembangkan kebudayaan sesuai zamannya,” ujarnya.
Melalui pemutaran film dan diskusi kebudayaan, para siswa diajak melihat Bone bukan hanya sebagai wilayah geografis, melainkan ruang yang menyimpan cerita panjang tentang manusia, alam, pertanian, dan tradisi yang membentuk identitas masyarakat.
Kegiatan ini menjadi upaya mendekatkan kebudayaan kepada generasi muda sekaligus menanamkan kesadaran bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab generasi terdahulu, tetapi juga tugas generasi hari ini dan masa depan.
Related Articles